Sejak Dulu, Pertunjukkan Wayang Golek Dilarang di Kampung Cileungsir. Mengapa?

Asal mula warga Cilengsir dilarang mengadakan pertunjukan wayang golek.

Kampung Cileungsir merupakan sebuah kampung (dusun) yang merupakan bagian dari desa Cileungsir yang berada di kecamatan Rancah kabupaten Ciamis.

Tulisan kali ini adalah sebuah cerita rakyat. Satu kisah dimasa lampau (mitos) yang hingga kini masih kuat dan melekat di hati seluruh warga kampung Cileungsir.

Mitos tentang tidak diperbolehkannya hiburan atau pertunjukan wayang golek di kampung Cileungsir ini, telah menjadi hal yang menakutkan hingga tidak seorangpun berani melanggarnya.

Bahkan, sejak saya (penulis) duduk di bangku SD hingga usia yang kini hampir menyentuh setengah abad, belum pernah sekalipun saya melihat atau bahkan mendengar kabar bahwa ada warga kampung Cileungsir yang pernah dan berani mengadakan pertunjukan wayang golek.

Alasannya hanya satu,

Mereka percaya, jika hiburan wayang golek diadakan di kampungnya, maka hanya akan mendatangkan malapetaka seperti kebakaran, hujan dan badai, hingga kematian.

kampung cileungsir

Padahal di kampung-kampung lain (tetangga kampung Cileungsir), pertunjukkan wayang golek kerap sekali diadakan. Dan telah menjadi satu hiburan yang menarik untuk ditonton.

Lalu, apakah sebenarnya mitos tersebut benar adanya? Dan jika itu benar, adakah satu cerita yang bisa memeberikan satu gambaran mengapa hal tersebut terjadi?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering kali timbul dan berkecamuk di benak saya.

Seperti kata pepatah,

Disana ada kemauan, pasti ada jalan..

Rasa penasaran serta keingintahuan saya yang besar untuk menggali lebih dalam mengenai cerita sebenarnya, telah membawa saya pada seseorang (sesepuh) yang dulunya pernah menjabat sebagai pegawai di desa Cileungsir.

Dan kabar baiknya, beliau bersedia untuk berbagi kisah tentang mitos di kampung Cileungsir ini.

Begini,

Konon, zaman dahulu di kampung Cileungsir (yang pada saat itu belum ada pemekaran dengan kampung Pasirdahu) ada seorang kepala desa bernama Rd. Angga Praja memerintah pada tahun 1837-1859.

Beliau adalah seorang kepala desa yang kharismatik, perintahnya selalu ditaati oleh rakyat seakan ucapannya bertuah.

Diceritakan Rd. Angga Praja sedang mengadakan hajat gusaran atau selamatan putrinya. Sudah menjadi adat istiadat bagi anak yang digusaran, ia dimanja dengan berbagai makanan kesukaannya termasuk pakaian baru dan perhiasan emas.

Undanganpun telah tersebar ke berbagai daerah termasuk kepada para pembesar desa hingga kabupaten.

Dan sebagai hiburan, pertunjukkan wayang golek-lah yang dipilih Rd. Angga Praja. Dan saat itu wayang golek merupakan satu kesenian sunda yang paling populer.

Pertunjukkan Wayang Golek Dilarang di Kampung Cileungsir.
Ilustrasi Rd. Angga Praja

Singkat cerita,

Para tamu undanganpun telah datang berduyun-duyun.

Bunyi gamelan bertalu-talu membawa suasana riang laksana sebuah magnet besar yang menarik pengunjung yang bermaksud memenuhi undangan atau sekedar ingin menyaksikan lakon cerita wayang golek.

Selain itu, banyak pula diantara pengunjung yang datang sebagai ajang mencari jodoh.

Nampak lampu-lampu patromak begitu terang benderang dipasang di tiap penjuru. Para pedagang berjejer menjajakan makanan seperti kacang rebus, tahu dan makanan lainya.

Di zaman itu, tentu saja belum ada mie ayam, roti bakar atau seblak ceker 😀

Semua para pedagang meggunakan penerangan alakadarnya berupa lampu pelita minyak tanah yang dihalangi pelepah pisang agar tidak mudah padam saat tertiup angin.

Cerita ini membawa kenangan saya saat dulu masih kecil sebelum ada listrik. (curhat..)

Sohibul hajat berserta istrinya begitu sibuk menerima tamu undangan, nampak diwajahnya senyum indah berseri-seri penuh suka cita.

namun ia tidak tahu dibalik kebahagiaan itu akan datang malapetaka besar yang menimpa.

Saat ramainya pertunjukan wayang golek, sang puteri yang menjadi pengantin gusaran itu tiba-tiba keluar sendiri dari rumahnya untuk mencari jajanan kesukaannya.

Namun naas baginya,

Saat berada di tempat yang gelap, puteri pengantin tersebut diculik dan disekap oleh seseorang yang tidak dikenal.

Dengan kasar, penculik tadi merampas dan mengambil semua perhiasan yang menempel ditubuh sang pengantin kecil.

Ketika hendak merampas anting ditelinga sang puteri, rupanya si penculik merasa sangat kesulitan. Hingga dengan sadisnya kedua telinga sang gadis kecil itu dipotongnya. Lalu si penculik pergi meninggalkan puteri kesayangan Rd. Angga Praja yang sudah tidak lagi berdaya dan berlumuran darah.

Di saat ki dalang menghentikan sejenak pertunjukkannya untuk beristirahat, kini riuh irama gamelan diiringi merdu sang juru kawih (sinden) sebagai penggantinya.

Satu lagu sunda yang populer saat itu mulai dinyanyikan. “Dengkleung dengdek buah kopi raranggeuyan”.

Semua penonton terpukau kala melihat sohibul hajat naik ke panggung dan berjoged mengikuti iringan kendang dan gamelan menghibur para penonton. Wow.. suasana semakin ramai, suara sorak-sorai penonton begitu riuh membawa suasana semakin ceria.

Situasi gembira ini sangat berbeda dengan apa yang dirasakan bibi emban (pengasuh sang puteri).

Ia justru tengah merasa gundah karena sejak tadi sang putri tidak pernah Ia lihat. Bibi Emban hanya bisa mondar-mandir panik tanpa sedikit keberanianpun untuk menceritakan hal itu kepada orang lain.

Namun, kegelisahan bibi Emban rupanya bisa dirasakan dan dilihat Ibunya sang puteri.

Saat semuanya ia ceritakan kepada ibunya tentang hilangnya sang puteri pengantin, suasana menjadi panik dan tak terkendali.

Rd. Angga Praja dan istrinya berusaha untuk tetap tenang dan berdoa, berharap agar puteri kesayangannya bisa kembali dengan selamat.

Tidak lama kemudian terdengar jeritan tangis anak. Ternyata sang putri datang setelah ditemukan oleh warga dengan berlumuran darah.

Secara spontan pertunjukan wayang golek-pun terhenti.

Jing gunjang ganjing langit klap-klap sangkakaton kaget ya…, kagiri-giri !”, ungkapan Rd. Angga Praja, disertai rasa sedih yang mendalam melihat buah hatinya yang telah tergeletak berlumuran darah segar dari kedua daun telinga anaknya.

Karena rasa sakit hati dan marah membuat Rd. Angga Praja mengucapkan kalimat seakan sebuah kutukan:

Cadu mungkuk haram dempak, anak incu aing urang Cileungsir ulah aya nu nganggap wayang sabab bakal keuna ku musibah kawas aing !”.

Ucapan Rd. Angga Praja saat itu disaksikan oleh warga kampung.

Dan kalimat itulah yang hingga kini masih dianggap bertuah sehingga tidak seorangpun warga Cileungsir yang berani melanggarnya.

Demikianlah kisah awal mula tidak dibolehkannya diadakan pertunjukkan wayang golek di dusun Cileungsir.

Mitos yang masih tetap ada di dusun Cileungsir :

  1. Warga kampung Cileungsir tabu atau dilarang secara adat mengadakan pertunjukan wayang golek.
  2. Warga Cileungsir tabu menyanyikan lagu berjudul, “dengkleung dengdek buah kopi raranggeuyan”.
  3. Hari tanggal dan bulan acara pertunjukan wayang Rd. Angga Praja merupakan hari naas (pantangan untuk acara hajat) untuk warga kampung Cileungsir. Untuk hari, tanggal, dan bulannya entah kapan penulis belum menemukan keterangannya.

Pesan moral dari cerita ini.

  1. Ucapan seseorang yang sakit hati adalah mustajab apalagi keluar dari mulut seorang pembesar yang dianggap ucapannya bertuah. Ucapan adalah doa, makanya kalimat negatif seperti kutukan kepada anak cucu harus di jauhi. Terbukti dengan ucapan Rd. Angga Praja.
  2. Kepercayaan masyarakat kepada, ”tabu, pamali atau larangan adat lainnya”, jangan dulu menyimpulkan bid’ah atau tahayul. Bacalah asbab atau kronologis sejarahnya.
  3. Cerita ini tidak bermaksud menyalahkan Rd. Angga Praja yang menjadi leluhur kita. Sebab biqudrotilah secara haqiqat beliau telah memberi contoh agar tidak berbuat seperti dirinya. Sebaliknya, jagalah lidah dan selalu hati-hati-hati dalam melangkah. Kita berdo’a semoga beliau mendapat pengampunan dan keridhoan Allah amin…!.

Untuk ruwatan atau tolak bala agar genetika dari kesalahan orang tua tidak ‘nitis’ kepada darah daging kita sebagai anak cucunya, maka perbanyaklah mendo’akan mereka agar di ampuni kesalahannya, dan bertawasulah kepada mereka agar kebaikan dan kejayaan masa hidupnya mengalir dalam ruh kita.

4 thoughts on “Sejak Dulu, Pertunjukkan Wayang Golek Dilarang di Kampung Cileungsir. Mengapa?”

  1. Hatur nuhun kang artikel na, alhamdulillah sakedik na abdi janten uninga kanu sejarah nu aya di tanah kelahiran pun rama. Nuhun kang. 🙏🙏

Leave a Comment